
UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit Saluran Cerna Pada Balita
UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit krisis air bersih menjadi perhatian karena anak-anak lebih rentan terhadap penyakit akibat buruknya kualitas air. UNICEF menjelaskan bahwa air aman dan sanitasi layak sangat penting untuk menjaga kesehatan serta kelangsungan hidup anak. Selain itu, anak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penyakit infeksi di bandingkan orang dewasa.
Ketika air bersih sulit di peroleh, keluarga dapat menghadapi hambatan menjaga kebersihan tangan dan lingkungan. Akibatnya, risiko paparan kuman penyebab penyakit saluran cerna dapat meningkat. Penyakit seperti diare juga berkaitan dengan air minum yang tidak aman dan sanitasi buruk. Karena itu, penyediaan layanan WASH menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan menghadapi krisis.
UNICEF mencatat bahwa ratusan anak balita meninggal setiap hari akibat penyakit diare yang dapat di cegah. Namun, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dalam jangka pendek. Anak yang sering mengalami penyakit akibat air tidak aman juga dapat kehilangan kesempatan memperoleh nutrisi dan pendidikan.
UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit sementara itu, perubahan iklim dapat memperburuk tekanan terhadap sumber air dan layanan sanitasi. Kekeringan, banjir, serta gelombang panas dapat mengganggu ketersediaan dan keamanan sumber air. Oleh sebab itu, sistem WASH perlu di rancang agar tetap berfungsi selama kondisi darurat.
UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit Yang Berhubungan Dari Air Bersih Dengan Kondisi Gizi Anak
UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit Yang Berhubungan Dari Air Bersih Dengan Kondisi Gizi Anak ketersediaan air bersih juga berkaitan erat dengan upaya menjaga status gizi anak. Sebab, penyakit berulang dapat mengganggu kemampuan tubuh mempertahankan kondisi kesehatan dan menyerap nutrisi. Selain itu, krisis air dapat menghambat praktik kebersihan yang mendukung pengasuhan dan pemberian makanan secara aman.
Laporan UNICEF menunjukkan bahwa risiko iklim dapat mengganggu layanan penting yang mendukung pemenuhan gizi anak. Pada saat yang sama, kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan terhadap layanan penanganan malnutrisi. Karena itu, ketahanan layanan air dan gizi perlu di persiapkan secara bersamaan.
Secara global, UNICEF mencatat masih banyak anak yang belum memperoleh layanan air minum yang di kelola secara aman. Pada 2024, sekitar 634 juta anak tidak memiliki akses terhadap air minum yang di kelola secara aman. Selain itu, sekitar satu miliar anak belum memperoleh layanan sanitasi yang di kelola secara aman.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika kekeringan atau bencana mengganggu sistem pangan dan layanan kesehatan. Akibatnya, keluarga dapat menghadapi tekanan berlapis dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Oleh karena itu, penguatan WASH harus berjalan bersama program kesehatan, perlindungan sosial, dan intervensi gizi.
Penguatan WASH Menjadi Bagian Kesiapsiagaan Krisis
Penguatan WASH Menjadi Bagian Kesiapsiagaan Krisis UNICEF mendorong penguatan layanan WASH agar masyarakat tetap memperoleh air aman dalam berbagai kondisi. Langkah tersebut mencakup penguatan infrastruktur, sanitasi, kebersihan, serta ketahanan layanan terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, risiko kesehatan anak dapat di tekan ketika terjadi gangguan sumber air.
Di Indonesia, UNICEF juga mendukung pemerintah dalam memperluas akses terhadap layanan air, sanitasi, dan kebersihan yang aman. Program kerja sama 2026–2030 menempatkan WASH dan ketahanan iklim sebagai bagian dari prioritas perlindungan anak. Selain itu, agenda tersebut terhubung dengan sektor kesehatan, gizi, pendidikan, dan perlindungan sosial.
UNICEF Indonesia mencatat bahwa akses terhadap layanan air minum aman masih menghadapi kesenjangan. Berdasarkan data yang di gunakan UNICEF, baru 30,45 persen rumah tangga memiliki akses terhadap air minum aman. Sementara itu, akses terhadap sanitasi aman tercatat sebesar 10,30 persen berdasarkan data terkait.
Karena itu, penguatan ketahanan air menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menghadapi risiko kesehatan anak. Pada Agustus 2026, UNICEF bersama mitra meluncurkan inisiatif BERSAMA untuk memperkuat ketahanan air di DAS Citarum. Inisiatif tersebut berfokus pada akses WASH berketahanan iklim dan peningkatan kualitas pengelolaan sumber daya air.
Dengan demikian, krisis air bersih tidak hanya menjadi persoalan ketersediaan sumber daya. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kesehatan, kebersihan, serta ketahanan gizi anak. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan perlu mencakup penyediaan air aman, sanitasi layak, dan layanan kesehatan berkelanjutan UNICEF Peringatkan Risiko Penyakit.